Sabtu, 11 Februari 2012

KITA

BRUUUKK.....
“Auw.....”, jerit seorang gadis yang terjatuh setelah menabrak pemuda di depannya. “Mas, kalau jalan lihat-lihat donk” sambil memunguti buku-buku yang berjatuhan dari tangannya.
“Iya mbak. Maaf.... Mbak nggak apa-apa kan. Sini saya bantu”, kata pemuda itu sambil membantu memunguti buku tersebut.
“Suka sama karya-karyanya Chairil Anwar ya mbak?”
“Mas tau dari mana?”
“Nih buku-buku yang mbak pinjem tentang Chairil Anwar semua. Berarti kan mbak suka karya-karyanya Chairil Anwar. Iya toh?”
“Enggak juga. Aku pinjem buku-buku Chairil Anwar karena ada tugas di sekolah, disuruh identifikasi tentang karya-karya Chairil Anwar. Kalau gak karena tugas, aku juga udah gak mau pinjam buku ini. Ke perpustakaan kota lagi. Males banget...”
“Kalau males ke perpustakaan kota, kenapa enggak ke perpustakaan sekolah aja?”
“Aduh... Kamu ini ngerti gak sih yang aku jelazin tadi? Ini tugas di sekolah, ya pasti buku-buku Chairil Anwar di perpustakaan sekolah sana sudah habis dipinjam sama teman-teman”
“Owh.... Iya yah.... Ini mbak bukunya.”, sambil memberika buku-buku kepada gadis itu.
“Makasih yah. Aku duluan.”, berlari keluar perpustakaan.
Saat pemuda itu nenunduk, dilihatnya kartu perpustakaan kota milik gadis itu terjatuh.
“Alena Amelia Putri Prasetyo. Hmmmm.... nama yang bagus, cocok dengan wajahnya yang manis”
*
Tok...tok...tok...
“Masuk....!”, terdengar suara dari dalam kamar.
Pintu pun terbuka.
“Del, udah nemu bukunya?”, ucap gadis dari luar tadi.
“Udah”, jawabnya singkat.
“Sekarang mana kartu perpusku? Besok aku mau ke perpus nih”
“Sebentar yah, aku cari dulu.”, sambil menggelegah tas convers warna hitamnya. “Aku taruh mana yah...?”
“Lho... Kok tanya aku. Kan kamu yang pinjem.”
“Iya-iya.... Bentar aku cari dulu. Sabar ya jeng.”
Beberapa menit kemudian.
“Del, kamu taruh mana sih? Cepetan donk.”
“Aku taruh tas kok, tapi kenapa ilang yah?”
“HAH! Ilang? Kamu ini gimana sih Del. Aku kan udah bilang, kalau sudah selesai make’ langsung taruh dompet atau tas. Sekarang kalau ilang gini gmana hayo?”
“Iya ntar aku cari deh. Pasti ketemu kok, paling cuma keselip doang. Kamu tenang aja”
“Tenang gimana maksud kamu. Iya kalau keselip, kalau ilang beneran gimana coba? Pokoknya kamu harus cari sampek ketemu.”
“Iya cerewet. Sekarang kamu balik aja ke kamar mu sana. Aku mau nyelesaiin tugas dulu nih.”
“Jangan sampek gara-gara kamu, aku besok gak jadi ke perpus.”
“Lho kok nyalahin aku. Kalau kamu mau ke perpus, ya kamu ke perpus aja sana. Kan bisa baca disana bukunya, gak usah dipinjem.”
“Huh... Dasar pelupa. Belum tua udah pikun.”
“Apa kamu bilang!”
Bruuuk. Pintu tertutup tepat saat Adel melempar buku Chairil Anwarnya.
Ketika gadis yang baru saja keluar kamar itu menuruni tangga spiral yang terbuat dari batu marmer menuju lantai bawah dan langsung menuju dapur.
“Amel. Kenapa triak-triak sih nak? Ini rumah bukan hutan.”, omel Mama Amel sekaligus Adel. Yah... Mereka adalah anak kembar dari keluarga Prasetyo. Kakaknya bernama Alena Amelia Putri Prasetyo yang akrab dengan sapaan Amel dan adiknya yang bernama Alina Adelia Putri Prasetyo yang biasa dipanggil Adel. Walaupun sudah jelas mana yang kakak dan mana yang adik, tetapi mereka berdua tidak mau mengakuinya. Mereka berebut ingin menjadi kakak. Maka dari itu sejak masih duduk dibangku TK sampai SMA sekarang ini, mereka tidak mau bersekolah di satu tempat. Dengan alasan supaya tidak ada yang tahu kalau mereka kembar, agar tidak meributkan siapa kakaknya dan siapa adiknya. Karena setiap orang yang melihat anak kembar pastilah menanyakan siapa kakaknya dan siapa adiknya. Selain itu mereka juga masih mempunyai kakak laki-laki yang bernama Mario Aditya Putra Prasetyo yang akrab dengan sapaan Adit.
“Adel tuh Ma. Masa kartu perpustakaan Amel diilangin sama dia. Nyebelin banget sih tu anak.”
“Kan bisa buat kartu perpus lagi Mel.”
“Iya Ma. Tapi Amel males nggurusnya. Lagian pasti datanya disana sudah ada, kalu ditanya mau jawab apa? Ilang gtu? Pasti ngurusnya tambah repot nih”
“Mungkin keselip kali Mel. Kayak kamu gak tau Adel aja.”
“Itu dia Ma. Walaupun keselip tapi gak dicari, pasti gak akan ketemu-ketemu”, sambil membuka kulkas LG 4 pintunya dan mengambil soft drink serta beberapa snack kesukaannya. “Adel kan gitu orangnya, gampang nyerah, kalah sama situasi. Kalau situasinya gak memungkinkan pasti deh nyerah. Bisa jadi kalu dalam pencarian kartu perpus punyanya Amel trus dia ada tugas yang numpuk banget atau gak ketemu-ketemu padahal udah ngacak-ngacak kamar tapi gak ketemu, pasti deh tu anak nyerah.”
“Udah, kamu tunggu dulu. Kalau masih gak ketemu kamu ajak Mama ngurus kartu perpus kamu.”, sambil terus mencoba membuat kue yang resepnya didapat dari ibu-ibu arisan kemaren sore. Sudah 15 kali membuat tetapi tidak ada yang berhasil.
*
“Del, tugasmu sudah selesai belum?”, tanya seorang sahabat Adel yang bernama Shela.
“Udah donk Shel. Adel gitu.”, sambil menjepit krahnya dengan jari telunjuk dan ibu jari di kanan dan kiri krah dan mengangkatnya sebentar setelah itu dilepaskan.
“Sombong nih. Mana coba aku lihat.”
“Nih....”
“Kamu dapat buku-buku ini dari mana?”, katanya setelah meneliti pekerjaan Adel beberapa menit. “Kan buku-buku ini di perpustakaan sekolah kita tidak ada. Aku juga sudah nyari di perpus sekolah sudah dipinjam semua buku-buku Chairil Anwarnya.”
“Makanya think smart donk. Aku pinjam di perpustakaan kota, di sana kan buku-bukunya lengkap.”
“Owh... Kenapa kamu gak bilang, kan sekalian aq bisa ikut. Tapi, ngomong-ngomong memangnya kamu punya kartu perpustakaan kota?”
“Hah... ehmmm Punya donk”
“Kenapa kamu ragu-ragu gitu jawabnya Del?”
“Enggak.... Gak apa-apa kok. Eh... Bu Elina datang tuh”
Benar saja, setelah Adel menyelesaikan kalimatnya. Ada seorang guru selaku wali kelas XI IB 1 yang masuk ke kelas.
“Selamat Pagi anak-anak!”
“Selamat Pagi Bu.....”, jawab murid-murid serempak.
“Pagi ini kita kedatangan murid baru yang akan masuk dan mengikuti proses belajar mengajar di kelas kita tercinta ini.”, setelah menyelesaikan ucapannya, Bu Elina memberikan isyarat dengan anggukkan kepada seseorang yang ada di luar kelas sejak tadi. Kemudian seorang pemuda memasuki kelas. “Ayo perkenalkan namamu”, perintah Bu Elina.
“Selamat Pagi. Nama saya Indra Bagaskara, kalian bisa memanggil saya cukup Indra. Saya pindahan dari SMA 25 Bandung. Senang berkenalan dengan kalian, semoga kita bisa jadi teman yang baik. Terima kasih.”
“Okeh Indra, kamu duduk di bangku kosong itu yah!”
“Iya bu, terima kasih.”
“Sekarang kalian buka buku bahasa indonesia kalian halaman 126. Dibaca ya, Ibu mau keluar sebentar.”
Indra berkenalan dengan teman sebangkunnya yang bernama Doni. Kemudian dia berpaling ke tempat duduk di sebelah kirinya.
“Lho...? Mbak yang kemaren kan?”, suara indra yang terlalu keras membuat Adel menoleh ke samping kanannya.
“Kamu ngomong sama aku?”
“Ya iyalah mbak, memangnya mau mgomong sama siapa lagi?”
“Hah...! Mbak katamu? Sejak kapan aku jadi kakak kamu?”
“Hehehehehe....... Perkenalkan nama saya Indra. Mbak namanya siapa?”, sambil mengulurkan tangan.
“Penting ya....?”, sambil tetap membaca buku bahasa indonesianya.
“Biar saya tebak pasti nama mbak ini Alena Amelia Putri Prasetyo. Ya kan?”
Adel kaget setengah mati mendengar nama saudara kembarnya disebut-sebut. Dia harus hati-hati dalam bertanya, supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang membuat terbongkarnya rahasia yang ia pendam belasan tahun sudah.
“Hah...! Apa katamu? Kenapa kamu bisa menyebutkan nama itu?”
 “Kemaren kartu perpustakaan mbak terjatuh, dan saya yang mengambilnya.”
“Owh... Jadi ada di kamu? Makanya saya cari-cari kok gak ada. Sini mana balikin!”
“Sebentar ya mbak.”, sambil merogoh tas skul rock warna hitamnya. “Wduh mbak maaf, saya lupa gak bawa. Saya pikir kalau saya bawa sembarangan nanti hilang. Ehm... Giman kalau nanti saya ke rumah mbak saja, ngembaliin kartunya. Di kartunya kan ada alamatnya.”
“Hah....! JANGAN....!”, ucap Adel setengah teriak saking kagetnya.
“Lho lha trus gimana mbak?”
“Maksudnya, kamu jangan panggil Mbak. Adel aja. Nama ku Adel.”, kata Adel setelah memikirkan jawabannya sejenak dan memutuskan untuk memperkenalkan dirinya.
“Lho tapi di kartu perpustakaan mbak eh kamu nama mu Ale...” belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Adel.
“Salah ketik kali. Nama ku Alina Adelia Putri Prasetyo. Teman-teman biasa panggil aku Adel.”
“Owh... iyah. Salam kenal.”
“Iyah...”
*
Dilain sekolah, Amel baru saja meletakkan tas convers pinknya di mejanya. Dan ia melihat secarik kertas yang menyembul keluar dari laci mejanya. Ditariknya laci itu, dan diambillah kertas itu yang ternyata adalah amplop surat. Di bagian depan bertuliskan for : Amel, dan di belakang bertuliskan secret admirer. Sudah 2 minggu ini setiap ia mendapat surat dari secret admirernya yang benar-benar mencurigakan. Dia sudah berkali-kali menjebak si pengirim dengan rencana-rencana brilian sahabatnya yang bernama Ella, mulai dari rencara datang pagi-pagi sekali sebelum penjaga sekolah belum bersih-bersih kelas sampai bertanya pada penjaga sekolah dan murid lain yang datangnya pagi. Tetapi tetap saja tidak bisa ditangkap.
Setelah beberapa menit membolak-balik amplop ini, kemudian ia baca.






Cinta masuk ke dalam sanubari tanpa aku undang
Ia bagai ilham dari langit yang menerobos dan bersemanyam dalam jiwa
Dan kini aku akan mati karena cinta asmara yang telah melilit seluruh jiwa
 
  
            “Dapat kiriman lagi Mel?”, suara Ella yang baru saja datang mengagetkan Amel dari lamunannya.
            “Iya. Ni orang siapa sih kurang kerjaan banget ngirim-ngirim kayak ginian.”
            “Kok kurang kerjaan sih? Dia kam pengen nunjukin ke kamu kalau dia suka sama kamu Mel.”
            “Kamu kenapa belain orang ini El? Jangan-jangan kamu sudah kepincut ma ni orang yah..?”
“Yeeeeee..... Siapa juga yang kepincut ma orang ini. Aku lama-lama jadi kasian ma orang ini. Dia suka sama kamu tapi gak bisa ngomong langsung ma orangnya tapi Cuma bisa lewat kata-kata indah kayak gini ini.”
            “Ya udah biarin aja. Kalu dia gak mau nunjukin dirinya ya udahlah biarin aja. Anggap aja orang salah kirim. hehehehehe”
            “Terserah kamu aja deh. Eh.. ntar pulang sekolah kamu antarin aku ke mall yuk. Biasa shopping.”
            “Males ah... Ntar aku mau ke perpustakaan kota. Mau nyari buku.”
            “Buku buat apa?”
            “Dibuat bantal. Ya dibacalah non.”
*
            to be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar mu...!! ^^