PENGERTIAN
Akselerasi adalah suatu proses percepatan
(acceleration) pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki
kemampuan luar biasa (unggul) dalam rangka mencapai target kurikulum Nasional
dengan mempertahankan mutu pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal.
Dengan kata lain peserta didik
dapat menyesuaikan cara belajarnya lebih cepat
dari siswa lainnya (siswa yang mengikuti program reguler).
Secara singkat pembelajaran akselerasi dapat
diartikan:
Ø Sebagai model
pembelajaran yaitu lompat kelas, dimana peserta didik berbakat yang memiliki
kemmampuan unggul diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran pada kelas yang
lebih tinggi.
Ø Kurikulum atau
akselerasi program, menunjuk pada peringkasan program sehingga dapat dijalankan
dalam waktu yang lebih cepat.
Ø Memperoleh
konten materi dengan irama yang lebih dipercepat sesuai dengan kemampuan
potensial siswa.
ALASAN ADANYA PEMBELAJARAN AKSELERASI
Ø Untuk
memberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara
lebih cepat.
Ø Untuk
meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik.
Ø Untuk mencegah
rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi
keunggulan peserta didik secara optimal.
Ø Untuk memacu
mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual, dan
emosionalnya secara seimbang.
Ø Untuk memenuhi
kebutuhan aktualisasi diri peserta didik.
KELEBIHAN
Dari sisi waktu, penyelenggaraan kelas
akselerasi menguntungkan, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara
khusus, sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya.
Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa
biasa. Jadi, keuntungannya terletak pada akselerasi pengajaran. Dengan program
percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan
siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju
dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih cepat selesai
dibandingkan melalui tahapan-tahapan pada umumnya.
KELEMAHAN
Ø Stigmatisasi
pada diri siswa yang ada di kelas reguler. Dalam sebuah kesatuan lingkungan,
bisa dikatakan bahwa kelas reguler adalah kelas yang relatif jelek bila
dibandingkan dengan kelas akselerasi
Ø Timbulnya budaya
inferior, muncul kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme. Dengan kondisi yang
betul-betul berbeda dengan segenap potensi intelektual yang lebih tinggi, jelas
siswa-siswa kelas akselerasi akan jauh lebih berprestasi dibanding kelas
reguler. Inferioritas pun mudah menghinggapi siswa-siswi kelas reguler, dan
sebaliknya eksklusivisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada diri
siswa-siswa kelas akselerasi. Masing-masing siswa membentuk group reference mereka
sendiri-sendiri.
Ø Terjadi dehumanisasi
pada proses belajar di sekolah. Materi pelajaran yang diselesaikan oleh siswa
reguler selama satu tahun harus dilalap habis siswa akselerasi selama satu
semester (setengah tahun). Dengan alokasi waktu yang jauh lebih pendek ini mau
tidak mau siswa harus belajar keras. Segi intelektualitas, potensi mereka
memang memungkinkan. Tetapi, mereka bukanlah mesin yang bisa diset untuk hanya
melakukan satu aktivitas.
Ø Siswa kelas
akselerasi tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan aspek
afektif. Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah
yang harus mereka selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka
miliki dan teman-teman sekelas yang rata rata pandai, membuat iklim kerja sama
mereka menjadi terbatas. Tugas-tugas itu bisa mereka selesaikan sendiri.
MASALAH YANG TERJADI DALAM PADA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN AKSELERASI
kebanyakan sekolah terlalu
menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan
yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan
budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain, seperti emosionalitas,
religiusitas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, dan afektivitas.
Masalahnya, pendidikan nilai tidak bisa dipercepat, bahkan instan. out-put yang
dilahirkan oleh institusi pendidikan selanjutnya hanyalah generasi-generasi
berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani
dan spiritual. Pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di
tengah-tengah masyarakat. Tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi
kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya. Yang dibutuhkan
adalah sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi
terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya
kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur
benih kerukunan bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila
terjadi kebimbangan. Yang menegakkan kebenaran bila terjadi beragarn bentuk
penyelewengan dan kesesatan. Yang menjadi pembawa terang di tengah kegelapan
hidup. Nilai-nilai kejujuran, sudah menjadi
moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya akan hilang dari memori bangsa.
Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya akan marak terjadi di
mana-mana. Perilaku keagamaan hanya akan sampai pada tataran ekstrinsik. Agarna
hanya akan dijadikan sebagai topeng untuk pencapaian kepentingan. Para elite
pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak bangsa. Yang terjadi justru
sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan publik, sehingga
terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup yang telah
dilakukan. Sementara itu, di aras akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis,
anarkisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan
lainnya menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan
sehari-hari.
IMPLEMENTASI TERHADAP PENYELENGGARAAN
PERPUSTAKAAN
Ø Perpustakaan harus menjadi ekslusif
yaitu perpustakaan harus berisi
buku-buku yang diperlukan oleh siswa yang ditempatkan di ruang kelas dan
dikelola secara mandiri oleh siswa.
Ø Perpustakaan harus menyediakan bahan
pustaka yang meliputi buku, majalah, surat kabar, CD, kaset audio, kaset video
yang dibutuhkan oleh peserta didik.
Ø Perpustakaan harus dapat menjadi
tempat belajar bagi peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Komentar mu...!! ^^