Minat adalah motif yang subyektif yaitu sebuah kekuatan yang mendorong seseorang
tertarik dan menginginkan melakukan aktivitas membaca. Bahan bacaan adalah sesuatu yang bersifat objektif. Biasanya
objek-objek yang menarik perhatian
dapat membentuk minat seseorang, karena adanya
dorongan dan kecenderungan untuk mengetahuinya, memperolehnya, menggalinya serta mencapainya. Timbulnya minat pada diri seseorang disebabkan oleh
adanya rasa ketertarikan, kepentingan dan perhatian pada suatu objek. Objek tersebut dapat berupa alam sekitar baik lingkungan sosial maupun
lingkungan material. Lingkungan menarik menyebabkan
dorongan kepada manusia
untuk memperhatikannya, mengetahuinya, selanjutnya ingin mencapainya. Untuk
mencapai hal-hal yang demikian
diperlukan beberapa syarat; pertama sesuatu itu harus ditampilkan dengan gaya
menarik. Kedua adalah adanya suatu kekuatan yang menyebabkan
menarik. Dan yang ketiga adalah sesuatu itu harus kontras yaitu membuat penasaran kepada pembaca
sehingga mereka ingin tahu lebih mendalam.
Suatu
bangsa yang maju tidak lepas dari peran belajar mengajar. Sedangkan belajar
sangatlah identik dengan membaca, membaca apa saja bisa dikatakan belejar. Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca
dalam arti seluas-luasnya. Seperti
membaca buku dapat memberikan informasi yang kita butuhkan. Membaca juga
merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam bidang pendidikan. Hal ini
dikarenakan, melalui membaca manusia dapat belajar mengenal keadaan sekitarnya.
Sehingga manusia dapat mengetahui informasi-informasi terbaru tentang
lingkungan dan perkembangan masa kini. Untuk itulah manusia membutuhkan bahan
bacaan atau media informasi. Tidak hanya buku yang memberikan kita informasi,
tetapi ada juga koran, majalah, novel dan cerpen saja juga memberikan kita
sebuah informasi. Dalam hal membaca, Indonesia menduduki peringkat ke-57 dari
65 negara di dunia. Dengan kata lain, orang Indonesia dalam setahun hanya mampu
membaca 27 halaman Dengan kata lain, untuk membaca 1 halaman, masyarakat kita
rata-rata memerlukan waktu 2 pekan.
Di
Indonesia, orang membaca dikatakan yang masih mengenyam bangku sekolah juga
sering dikategorikan orang yang sedang menempuh pendidikan alias belajar. Jadi
orang yang sedang membaca buku, adalah orang yang sedang belajar karena besok
ada ujian, bahkan ada kalangan yang menyebut orang yang senang membaca buku
adalah orang yang culun, dan tidak gaul, atau biasa disebut kutu buku. Anggapan
yang seperti inilah yang menjadikan orang Indonesia kurang berminat terhadap
membaca. Rendahnya minat membaca buku, ini juaga disebabkan rendahnya minat
menulis buku berkualitas di Indonesia, kebanyakan rata-rata penulis buku di Indonesia
condong pada segmen novel, sastra dan puisi-puisi, yang hanya diminati oleh
kalangan tertentu saja. Mereka hanya kurang sadar akan pentingnya membaca dan
meremehkan membaca. Persentase
yang rendah dalam membaca yang menggambarkan kondisi minat baca masyarakat dibanding dengan
tingginya minat menonton televisi atau mendengarkan radio menjadi pertanda
bahwa upaya pemerintah dalam menggugah minat baca masyarakat dinilai masih belum berhasil.
Meskipun gencarnya sosialisasi atau
bahkan kampanye peningkatan minat baca selama ini, tetap saja tak dapat
mengurungkan minat masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
menonton televisi atau mendengarkan radio.
Bagaimana
dengan minat baca mahasiswa Indonesia? Minat baca pada mahasiswa
Indonesia pada umumnya bisa dibuktikan dari jumlah buku yang terbit di
Indonesia. Jumlahnya hanya mencapai 5000-10.000 judul buku per tahun. Kurangnya
minat baca ini membuat mereka miskin pengetahuan baik
secara umum maupun dalam pendekatan budaya lokal. Bahkan, kurangnya kebiasaan
membaca membuat mahasiswa dan pelajar Indonesia kurang hafal terhadap sejarah
bangsanya sendiri. Kadang mahasiswa membaca hanya karena ada tugas dari dosen
dan jika tugas selesai mahasiswa juga tidak akan membaca buku itu lagi. Itu
berarti kemauan membaca mahasiswa itu hanya karena paksaan. Lalu bagaimanakah
minat baca mahasiswa Universitas Negeri Malang?
Universitas
Negeri Malang (UM) salah satu universitas yang mengutamakan lulusan bertitel
pendidik juga mempunyai perpustakaan pusat yang koleksinya terbilang banyak dan
beragam yang dilengkapi area hotspot untuk browsing di internet. Serta
dilengkapi setiap fakultas memiliki perpustakaan fakultas sendiri-sendiri yang
memfasilitasi mahasiswa mencari literatur yang menunjang perkuliahan. Tetapi
apakah fasilitas-fasilitas tersebut dipergunakan dengan sebaik-baiknya?
Jawabnya belum tentu. Bila dibandingkan perpustakaan pengunjungnya lebih
sedikit dari pada pujasera UM. Mereka lebih mengutamakan urusan perut dari pada
ilmu yang mereka dapat jika membaca literatur di perpustakaan. Pada dasarnya
perpustakaan perguruan tinggi memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan
oleh penggunanya atau sivitas akademika dalam menyelenggarakan mengadakan
koleksi buku, terbitan berseri, referensi, dan bahan pustaka lainnya yang
dibutuhkan sivitatas akademi bersangkutan.
Salah
satu komponen penting dari perpustakaan adalah pustakawan, komponen ini sangat
diperlukan untuk memberikan pelayanan (jasa) kepada pengguna perpustakaan
sampai mampu memberikan tingkat kepuasan terhadap masyarakat yang dilayani. Tetapi
mahasiswa masih banyak yang beranggapan bahwa berada di perpustakaan sangatlah
membosankan, selain pustakawan yang kurang ramah juga suasananya yang kurang
mendukung. Itu sebabnya sebagai seorang pustakawan sangatlah mengutamakan 3S
(senyum, salam, sapa) kepada pemustaka, agar mereka betah berlama-lama di
perpustakaan. Perpustakaan sebagai fasilitas belajar sungguh masih kurang di
pergunakan dengan maksimal. Rendahnya minat baca mahasiswa UM ini juga
disebabkan karena mahasiswa UM belum memiliki minimnya motifasi untuk membaca. Bagaimana
dengan minat baca mahasiswa UM terhadap karya sastra?
Karya sastra adalah suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk dan isi sastra pun harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya. Istilah karya sastra di Indonesia mempunyai arti yang saling melengkapi menurut jenisnya, seperti roman, politik, perjuangan dll. Sastra juga sebagai sumber yang otentik peradaban manusia dari zaman ke zaman.
Sastra dibagi menjadi dua yaitu prosa dan puisi, prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya sastra puisi yaitu puisi, pantun, dan syair sedangkan contoh karya sastra prosa yaitu novel, cerita/cerpen, dan drama. Sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Sastra puisi seperti karya-karya Chairil Anwar yang terkenal pada zamannya, lebih menitik beratkan puisi-puisinya kepada pandangannya terhadap kematian. Dalam karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana yang juga terkenal di jamannya, ia melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia dipandang dari segi Indonesia, buku mana masih dipakai sampai sekarang. atau yang terkenal saat ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang melambung karena ceritanya yang dapat membuat pembacanya merinding ketika membaca di setiap barisnya dapat memberikan semangat perjuangan hidup, perjuangan mencapai cita-cita.
Di
UM karya sastra banyak yang mengatakan identik dengan mahasiswa fakultas sastra,
tetapi belum tentu semua mahasiswa fakultas sastra suka membaca karya sastra.
Karena bahasanya yang sulit dimengerti dan butuh pemahaman yang lebih lanjut
maka peminat karya sastra pun tidak begitu banyak. Tetapi jika dilihat dari
jenisnya, peminat karya sastra itu tergantung dengan jenis karya sastra itu
sendiri. Misalnya puisi, peminatnya jelas hanya mahasiswa yang memahami dan
mengerti bahasa sastra. Tetepi lain halnya dengan novel yang peminatnya bisa
menikmati bacaan tersebut tanpa harus pemahaman terperinci. Peminatnya pun tidak
hanya mahasiswa dari fakultas sastra tetapi fakultas lainnya. Tetapi ada
mahasiswa mengetahui karya sastra karena mengerjakan soal-soal saat masih di
bangku SMA atau SMP, atau ada mahasiswa yang mengetahui karya sastra karena
mendapatkan tugas dari dosen. Di perpustakaan, koleksi tentang karya sastra
juga masih belum maksimal.
Memang
seharusnya dalam proses belajar mengajar di kampus, dosen juga dapat
mengarahkan mahasiswanya untuk gemar membaca buku dengan manfaat literatur yang
ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya. Bukan hanya mengetahui sebuah
karya sastra tetapi agar mahasiswa tersebut mempunyai kegemaran membaca. Disinilah
peran dosen sebagai pendidik dan pengajar memberikan motivasi, melalui pembelajaran
mata pelajaran yang relevan dengan memberi tugas kepada peserta didiknya.
Ditunjang dengan fasilitas yang tersedia seperti perpustakaan atau pun artikel
di internet. Tetapi mahasiswa sekarang justru lebih memilih menonton acara di
TV, berhubungan lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter dll atau lebih
suka mencuci mata di mall, dan memainkan game melalui play station dari pada
berlama-lama membaca di perpustakaan. Inilah yang menyebabkan perpustakaan sepi
pemustaka yang haus akan ilmu.
Selain
itu terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi rendahnya minat baca
mahasiswa UM yaitu mahalnya harga buku. Jika bisa menekan harga buku bacaan
maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli mahasiswa yang mayoritas
para penghuni kost, pastilah mereka akan memiliki keinginan untuk membaca. Sebuah
buku yang pertama dilihat adalah sampul buku. Jika smpul buku itu menarik
perhatian, tak heran buku itu akan banyak yang membelinya. Tetapi jika smpul
buku tidak menunjang isinya walaupun isinya bagus, konsumen tidak akan melirik
buku tersebut. Maka dari itu bentuk dan isi buku juga mempengaruhi minat baca
mahasiswa. Mayoritas mahasiswa juga lebih suka membaca buku yang dikemas dengan
gambar-gambar yang menarik. Selain karena bisa dapat cepat memahami isi buku
juga bisa menunjang isi bacaan. Contohnya komik yang dari dulu sampai sekarang
masih ada dan makin banyak penggemarnya. Dengan komik, kita bisa menangkap
ceritanya hanya dengan melihat gambarnya walaupun belum membaca. Ini menandakan
bahwa buku yang bergambar lebih disukai dan efektif untuk pelajar maupun
mahasiswa, termasuk mahasiswa UM.
Lingkungan
disekitar kita baik di rumah, kampus atau dimana saja juga sangat berperan
untuk memberikan daya tarik peserta didik untuk membaca dan dapat menumbuhkan
minat baca. Lingkungan yang tenang dan nyaman akan membuat pembaca merasa
nyaman untuk membaca. Seperti kampus UM yang menyediakan fasilitas perpustakaan
yang nyaman dan tenang. Itu sebabnya perpustakaan identik dengan ketenangan dan
kebersihan. Sehingga siapa saja yang masuk ke perpustakaan diharapkan tenang
dan tidak membawa makanan ke dalam gedung perpustakaan. Dengan begitu
diharapkan agar pemustaka nyaman untuk membaca di perpustakaan. Di rumah, orang
tua membiasakan anak-anak
usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca.
Serta bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara
berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang
kuat dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu
kebutuhan bukan sekedar hobi. Ditunjang dengan menciptakan
suasana yang nyaman untuk membaca. Sejak kecil, anak mulai dari anak baru
mengenal huruf sudah dikenalkan dengan buku dan bacaan. Sehingga ketika ia
besar akan dengan sendirinya menyukai membaca karena terbiasa dengan situasi
rumah yang penuh dengan buku dan bacaan.
Dari penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa minat baca masyarakat
Indonesia, khususnya mahasiswa relatif rendah. Mereka lebih senang
mencari hiburan pada acara di TV, berhubungan melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter dll di warnet, hotspot, shopping di
mall, memainkan play station atau tempat hiburan lainnya di banding membaca
buku di perpustakaan. Internet juga menjadi kendala bagi berkembangnya minat
baca, perkembangan teknologi informasi seperti internet
telah mempermudah akses masyarakat sedikit lebih luas terhadap sastra dan ilmu
pengetahuan. Itu sebabnya minat baca perlu ditumbuhkan sejak anak
usia dini. Sejak mereka telah bisa membaca sudah dikenalkan dengan buku dan
bacaan, agar terbiasa untuk membaca bacaan dan akhirnya gemar membaca. Universitas
dan dosen juga masih belum membudayakan mahasiswanya untuk menggunakan
perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar. Sehingga mahasiswa sangat
rendah apresiasinya terhadap karya sastra maupun buku ataupun karya tulis
lainnya. Minimnya koleksi buku-buku di perpustakaan juga menjadi penghambat
meningkatnya minat baca.
Di samping itu, perpustakaan yang telah ada masih belum dikelola secara
profesional. Tidak dipungkiri bahwa keberadaan perpustakaan sangatlah penting
bagi kelangsungan pendidikan bangsa Indonesia. Tetapi pada kenyataannya
perpustakaan masih minim akan informasi
yang terkumpul di perpustakaan itu. Kendala yang lain adalah jumlah perpustakaan
tidak sepadan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai contoh tidak semua
kota/kabupaten di Indonesia memiliki perpustakaan. Sekarang kita baru memiliki
261 perpustakaan dari sekitar 450 kabupaten/kota se-Indonesia, ini berarti
masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki perpustakaan.
Perpustakaan perguruan tinggi misalnya, masih ditemukan disana bahwa
pemustaka adalah mahasiswa yang sedang membaca dsana ternyata hanya untuk
mencari tugas, selebihnya hanya browsing dengan hotspot area. Padahal Perpustakaan
Perguruan Tinggi sering dimaknai sebagai pusat penelitian karena banyak menyediakan informasi yang
berkaitan dengan sarana pendukung dalam
proses penelitian. Adapun sisi lain tujuannya sebagai Unit Pelaksana Teknis dari suatu perguruan tinggi yang bersama-sama
dengan unit lain melakukan kegiatannya sehingga terlaksana penyelenggaraan
dalam membantu lembaga induknya untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sebenernya untuk menciptakan dan
mengembangkan minat baca masyarakat akan bisa terwujud kalau semua
pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan,
orang tua, pecinta buku maupun elemen masyarakat mau bersama-sama
berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal
mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui
pemasyarakatan perpustakaan. Kalau semua sekolah dan perguruan
tinggi maupun dalam lingkungan kampung dan desa tersedia perpustakaan. Maka
tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan
demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi
dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan
begini lapangan kerja juga terbuka luas dan berpotensi besar dan inilah yang
diharapkan oleh pengarang maupun penerbit supaya dunia buku tidak lesu
dan gulung tikar. Dengan demikian dua masalah negara terselesaikan, mengurangi
kemiskinan dengan memberikan lowongan pekerjaan serta mengurangi jumlah buta
huruf dengan adanya perpustakaan daerah. Peranan
pemerintah daerah yang dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa,
gerakan masyarakat cinta buku untuk bersama-sama merangkul pihak-pihak
swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori
pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan masyarakat.
Pada intinya perpustakaan perguruan
tinggi sangatlah berperan aktif dalam meningkatkan minat baca mahasiswa. Perpustakaan adalah merupakan jantung perguruan tinggi yang seharusnya
juga merupakan wahana dan bangunan yang ada di seluruh lapisan masyarakat.
Wahana dan bangunan ini berfungsi untuk menyimpan informasi dan ide gagasan
serta ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak terbatas, memiliki kemampuan pula
untuk mengkomunikasikan kekayaan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat
bangsa. Apabila negara berkeinginan
keras untuk mencerdaskan bangsanya, maka salah satu wahana yang dibangun dan
diperlengkap serta dikembangkan adalah perpustakaan yang nantinya akan
berfungsi dengan benar dan baik. Akhirnya ada secercah harapan ke depan agar
perpustakaan bukan hanya sebagai jantung perguruan tinggi, melainkan juga
menjadi jantung negara yang berkeinginan untuk mencapai cita citanya antara
lain mencerdaskan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Komentar mu...!! ^^