Senin, 13 Agustus 2012

MINAT BACA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG TERHADAP KARYA SASTRA

Minat adalah motif yang subyektif yaitu sebuah kekuatan yang mendorong seseorang tertarik dan menginginkan melakukan aktivitas membaca. Bahan bacaan adalah sesuatu yang bersifat objektif. Biasanya objek-objek yang menarik perhatian dapat membentuk minat seseorang, karena adanya dorongan dan kecenderungan untuk mengetahuinya, memperolehnya, menggalinya serta mencapainya. Timbulnya minat pada diri seseorang disebabkan oleh adanya rasa ketertarikan, kepentingan dan perhatian pada suatu objek. Objek tersebut dapat berupa alam sekitar baik lingkungan sosial maupun lingkungan material. Lingkungan menarik menyebabkan
dorongan kepada manusia untuk memperhatikannya, mengetahuinya, selanjutnya ingin mencapainya. Untuk mencapai hal-hal yang demikian diperlukan beberapa syarat; pertama sesuatu itu harus ditampilkan dengan gaya menarik. Kedua adalah adanya suatu kekuatan yang menyebabkan menarik. Dan yang ketiga adalah sesuatu itu harus kontras yaitu membuat penasaran kepada pembaca sehingga mereka ingin tahu lebih mendalam.

Suatu bangsa yang maju tidak lepas dari peran belajar mengajar. Sedangkan belajar sangatlah identik dengan membaca, membaca apa saja bisa dikatakan belejar. Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca dalam arti seluas-luasnya. Seperti membaca buku dapat memberikan informasi yang kita butuhkan. Membaca juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan, melalui membaca manusia dapat belajar mengenal keadaan sekitarnya. Sehingga manusia dapat mengetahui informasi-informasi terbaru tentang lingkungan dan perkembangan masa kini. Untuk itulah manusia membutuhkan bahan bacaan atau media informasi. Tidak hanya buku yang memberikan kita informasi, tetapi ada juga koran, majalah, novel dan cerpen saja juga memberikan kita sebuah informasi. Dalam hal membaca, Indonesia menduduki peringkat ke-57 dari 65 negara di dunia. Dengan kata lain, orang Indonesia dalam setahun hanya mampu membaca 27 halaman Dengan kata lain, untuk membaca 1 halaman, masyarakat kita rata-rata memerlukan waktu 2 pekan.

Di Indonesia, orang membaca dikatakan yang masih mengenyam bangku sekolah juga sering dikategorikan orang yang sedang menempuh pendidikan alias belajar. Jadi orang yang sedang membaca buku, adalah orang yang sedang belajar karena besok ada ujian, bahkan ada kalangan yang menyebut orang yang senang membaca buku adalah orang yang culun, dan tidak gaul, atau biasa disebut kutu buku. Anggapan yang seperti inilah yang menjadikan orang Indonesia kurang berminat terhadap membaca. Rendahnya minat membaca buku, ini juaga disebabkan rendahnya minat menulis buku berkualitas di Indonesia, kebanyakan rata-rata penulis buku di Indonesia condong pada segmen novel, sastra dan puisi-puisi, yang hanya diminati oleh kalangan tertentu saja. Mereka hanya kurang sadar akan pentingnya membaca dan meremehkan membaca. Persentase yang rendah dalam membaca yang menggambarkan kondisi minat baca masyarakat dibanding dengan tingginya minat menonton televisi atau mendengarkan radio menjadi pertanda bahwa upaya pemerintah dalam menggugah minat baca masyarakat dinilai masih belum berhasil. Meskipun gencarnya sosialisasi atau bahkan kampanye peningkatan minat baca selama ini, tetap saja tak dapat mengurungkan minat masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menonton televisi atau mendengarkan radio.

Bagaimana dengan minat baca mahasiswa Indonesia? Minat baca pada  mahasiswa Indonesia pada umumnya bisa  dibuktikan dari jumlah buku yang terbit di Indonesia. Jumlahnya hanya mencapai 5000-10.000 judul buku per tahun. Kurangnya minat baca ini membuat mereka miskin pengetahuan baik secara umum maupun dalam pendekatan budaya lokal. Bahkan, kurangnya kebiasaan membaca membuat mahasiswa dan pelajar Indonesia kurang hafal terhadap sejarah bangsanya sendiri. Kadang mahasiswa membaca hanya karena ada tugas dari dosen dan jika tugas selesai mahasiswa juga tidak akan membaca buku itu lagi. Itu berarti kemauan membaca mahasiswa itu hanya karena paksaan. Lalu bagaimanakah minat baca mahasiswa Universitas Negeri Malang?

Universitas Negeri Malang (UM) salah satu universitas yang mengutamakan lulusan bertitel pendidik juga mempunyai perpustakaan pusat yang koleksinya terbilang banyak dan beragam yang dilengkapi area hotspot untuk browsing di internet. Serta dilengkapi setiap fakultas memiliki perpustakaan fakultas sendiri-sendiri yang memfasilitasi mahasiswa mencari literatur yang menunjang perkuliahan. Tetapi apakah fasilitas-fasilitas tersebut dipergunakan dengan sebaik-baiknya? Jawabnya belum tentu. Bila dibandingkan perpustakaan pengunjungnya lebih sedikit dari pada pujasera UM. Mereka lebih mengutamakan urusan perut dari pada ilmu yang mereka dapat jika membaca literatur di perpustakaan. Pada dasarnya perpustakaan perguruan tinggi memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya atau sivitas akademika dalam menyelenggarakan mengadakan koleksi buku, terbitan berseri, referensi, dan bahan pustaka lainnya yang dibutuhkan sivitatas akademi bersangkutan.

Salah satu komponen penting dari perpustakaan adalah pustakawan, komponen ini sangat diperlukan untuk memberikan pelayanan (jasa) kepada pengguna perpustakaan sampai mampu memberikan tingkat kepuasan terhadap masyarakat yang dilayani. Tetapi mahasiswa masih banyak yang beranggapan bahwa berada di perpustakaan sangatlah membosankan, selain pustakawan yang kurang ramah juga suasananya yang kurang mendukung. Itu sebabnya sebagai seorang pustakawan sangatlah mengutamakan 3S (senyum, salam, sapa) kepada pemustaka, agar mereka betah berlama-lama di perpustakaan. Perpustakaan sebagai fasilitas belajar sungguh masih kurang di pergunakan dengan maksimal. Rendahnya minat baca mahasiswa UM ini juga disebabkan karena mahasiswa UM belum memiliki minimnya motifasi untuk membaca. Bagaimana dengan minat baca mahasiswa UM terhadap karya sastra?
Karya sastra adalah suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk dan isi sastra pun harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya. Istilah karya sastra di Indonesia mempunyai arti yang saling melengkapi menurut jenisnya, seperti roman, politik, perjuangan dll. Sastra juga sebagai sumber yang otentik peradaban manusia dari zaman ke zaman.
Sastra dibagi menjadi dua yaitu prosa dan puisi, prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya sastra puisi yaitu puisi, pantun,  dan syair sedangkan contoh karya sastra prosa yaitu novel, cerita/cerpen, dan drama. Sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Sastra puisi seperti karya-karya Chairil Anwar yang terkenal pada zamannya, lebih menitik beratkan puisi-puisinya kepada pandangannya terhadap kematian. Dalam karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana yang juga terkenal di jamannya, ia melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia dipandang dari segi Indonesia, buku mana masih dipakai sampai sekarang. atau yang terkenal saat ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang melambung karena ceritanya yang dapat membuat pembacanya merinding ketika membaca di setiap barisnya dapat memberikan semangat perjuangan hidup, perjuangan mencapai cita-cita.
Di UM karya sastra banyak yang mengatakan identik dengan mahasiswa fakultas sastra, tetapi belum tentu semua mahasiswa fakultas sastra suka membaca karya sastra. Karena bahasanya yang sulit dimengerti dan butuh pemahaman yang lebih lanjut maka peminat karya sastra pun tidak begitu banyak. Tetapi jika dilihat dari jenisnya, peminat karya sastra itu tergantung dengan jenis karya sastra itu sendiri. Misalnya puisi, peminatnya jelas hanya mahasiswa yang memahami dan mengerti bahasa sastra. Tetepi lain halnya dengan novel yang peminatnya bisa menikmati bacaan tersebut tanpa harus pemahaman terperinci. Peminatnya pun tidak hanya mahasiswa dari fakultas sastra tetapi fakultas lainnya. Tetapi ada mahasiswa mengetahui karya sastra karena mengerjakan soal-soal saat masih di bangku SMA atau SMP, atau ada mahasiswa yang mengetahui karya sastra karena mendapatkan tugas dari dosen. Di perpustakaan, koleksi tentang karya sastra juga masih belum maksimal.

Memang seharusnya dalam proses belajar mengajar di kampus, dosen juga dapat mengarahkan mahasiswanya untuk gemar membaca buku dengan manfaat literatur yang ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya. Bukan hanya mengetahui sebuah karya sastra tetapi agar mahasiswa tersebut mempunyai kegemaran membaca. Disinilah peran dosen sebagai pendidik dan pengajar memberikan motivasi, melalui pembelajaran mata pelajaran yang relevan dengan memberi tugas kepada peserta didiknya. Ditunjang dengan fasilitas yang tersedia seperti perpustakaan atau pun artikel di internet. Tetapi mahasiswa sekarang justru lebih memilih menonton acara di TV, berhubungan lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter dll atau lebih suka mencuci mata di mall, dan memainkan game melalui play station dari pada berlama-lama membaca di perpustakaan. Inilah yang menyebabkan perpustakaan sepi pemustaka yang haus akan ilmu.

Selain itu terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi rendahnya minat baca mahasiswa UM yaitu mahalnya harga buku. Jika bisa menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli mahasiswa yang mayoritas para penghuni kost, pastilah mereka akan memiliki keinginan untuk membaca. Sebuah buku yang pertama dilihat adalah sampul buku. Jika smpul buku itu menarik perhatian, tak heran buku itu akan banyak yang membelinya. Tetapi jika smpul buku tidak menunjang isinya walaupun isinya bagus, konsumen tidak akan melirik buku tersebut. Maka dari itu bentuk dan isi buku juga mempengaruhi minat baca mahasiswa. Mayoritas mahasiswa juga lebih suka membaca buku yang dikemas dengan gambar-gambar yang menarik. Selain karena bisa dapat cepat memahami isi buku juga bisa menunjang isi bacaan. Contohnya komik yang dari dulu sampai sekarang masih ada dan makin banyak penggemarnya. Dengan komik, kita bisa menangkap ceritanya hanya dengan melihat gambarnya walaupun belum membaca. Ini menandakan bahwa buku yang bergambar lebih disukai dan efektif untuk pelajar maupun mahasiswa, termasuk mahasiswa UM.
           
         Lingkungan disekitar kita baik di rumah, kampus atau dimana saja juga sangat berperan untuk memberikan daya tarik peserta didik untuk membaca dan dapat menumbuhkan minat baca. Lingkungan yang tenang dan nyaman akan membuat pembaca merasa nyaman untuk membaca. Seperti kampus UM yang menyediakan fasilitas perpustakaan yang nyaman dan tenang. Itu sebabnya perpustakaan identik dengan ketenangan dan kebersihan. Sehingga siapa saja yang masuk ke perpustakaan diharapkan tenang dan tidak membawa makanan ke dalam gedung perpustakaan. Dengan begitu diharapkan agar pemustaka nyaman untuk membaca di perpustakaan. Di rumah, orang tua membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca. Serta bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat  dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi. Ditunjang dengan menciptakan suasana yang nyaman untuk membaca. Sejak kecil, anak mulai dari anak baru mengenal huruf sudah dikenalkan dengan buku dan bacaan. Sehingga ketika ia besar akan dengan sendirinya menyukai membaca karena terbiasa dengan situasi rumah yang penuh dengan buku dan bacaan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia, khususnya  mahasiswa relatif rendah. Mereka lebih senang mencari hiburan pada acara di TV, berhubungan melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter dll di warnet, hotspot, shopping di mall, memainkan play station atau tempat hiburan lainnya di banding membaca buku di perpustakaan. Internet juga menjadi kendala bagi berkembangnya minat baca, perkembangan teknologi informasi seperti internet telah mempermudah akses masyarakat sedikit lebih luas terhadap sastra dan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya minat baca perlu ditumbuhkan sejak anak usia dini. Sejak mereka telah bisa membaca sudah dikenalkan dengan buku dan bacaan, agar terbiasa untuk membaca bacaan dan akhirnya gemar membaca. Universitas dan dosen juga masih belum membudayakan mahasiswanya untuk menggunakan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar. Sehingga mahasiswa sangat rendah apresiasinya terhadap karya sastra maupun buku ataupun karya tulis lainnya. Minimnya koleksi buku-buku di perpustakaan juga menjadi penghambat meningkatnya minat baca.

Di samping itu, perpustakaan yang telah ada masih belum dikelola secara profesional. Tidak dipungkiri bahwa keberadaan perpustakaan sangatlah penting bagi kelangsungan pendidikan bangsa Indonesia. Tetapi pada kenyataannya perpustakaan masih minim akan  informasi yang terkumpul di perpustakaan itu. Kendala yang lain adalah jumlah perpustakaan tidak sepadan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai contoh tidak semua kota/kabupaten di Indonesia memiliki perpustakaan. Sekarang kita baru memiliki 261 perpustakaan dari sekitar 450 kabupaten/kota se-Indonesia, ini berarti masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki perpustakaan.

Perpustakaan perguruan tinggi misalnya, masih ditemukan disana bahwa pemustaka adalah mahasiswa yang sedang membaca dsana ternyata hanya untuk mencari tugas, selebihnya hanya browsing dengan hotspot area. Padahal Perpustakaan Perguruan Tinggi sering dimaknai sebagai pusat penelitian  karena banyak menyediakan informasi yang berkaitan dengan sarana pendukung  dalam proses penelitian. Adapun sisi lain tujuannya sebagai Unit Pelaksana Teknis  dari suatu perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unit lain melakukan kegiatannya sehingga terlaksana penyelenggaraan dalam membantu lembaga induknya untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sebenernya untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat  akan bisa terwujud  kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan,  orang tua, pecinta buku maupun  elemen masyarakat  mau bersama-sama berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui  pemasyarakatan perpustakaan.  Kalau semua sekolah dan perguruan tinggi maupun dalam lingkungan kampung dan desa tersedia perpustakaan. Maka  tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan begini lapangan kerja juga terbuka luas dan berpotensi besar dan inilah yang diharapkan oleh pengarang maupun penerbit  supaya dunia buku tidak lesu dan gulung tikar. Dengan demikian dua masalah negara terselesaikan, mengurangi kemiskinan dengan memberikan lowongan pekerjaan serta mengurangi jumlah buta huruf dengan adanya perpustakaan daerah. Peranan pemerintah daerah yang dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk  bersama-sama merangkul pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan masyarakat.
Pada intinya perpustakaan perguruan tinggi sangatlah berperan aktif dalam meningkatkan minat baca mahasiswa. Perpustakaan adalah merupakan jantung perguruan tinggi yang seharusnya juga merupakan wahana dan bangunan yang ada di seluruh lapisan masyarakat. Wahana dan bangunan ini berfungsi untuk menyimpan informasi dan ide gagasan serta ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak terbatas, memiliki kemampuan pula untuk mengkomunikasikan kekayaan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat bangsa.  Apabila negara berkeinginan keras untuk mencerdaskan bangsanya, maka salah satu wahana yang dibangun dan diperlengkap serta dikembangkan adalah perpustakaan yang nantinya akan berfungsi dengan benar dan baik. Akhirnya ada secercah harapan ke depan agar perpustakaan bukan hanya sebagai jantung perguruan tinggi, melainkan juga menjadi jantung negara yang berkeinginan untuk mencapai cita citanya antara lain mencerdaskan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar mu...!! ^^