Senin, 09 April 2012

ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN
A.      Aliran Klasik
Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan
1.        Pertumbuhan terjadi pada manusia bersifat material dan kuantitatif, baik pada bagian fisik tertentu maupun secara keseluruhan. Pertumbuhan berbentuk perubahan:
pembesaran,  pemanjangan, pembanyakan dan bentuk-bentuk lainnya
2.        Perkembangan merupakan perubahan yang meliputi berfungsinya aspek fisik dan jiwa secara kualitatif. Contoh :
a.    Petumbuhan dan kuatnya tulang,  kaki dapat menjalankan fungsi yang semakin kompleks
b.    Daya pikir, kepekaan, rasa sosial, krearivitas
Faktor-faktor perkembangan manusia berpengaruh pada munculnya aliran klasik pendidikan:
1.        Empirisme (John Locke)
Segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oleh empiri (pengalaman nyata) melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Teori tabularasa, bahwa anak baru lahir diumpakamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa-apa. Perkembangan manusia sangat ditentukan/ diperngaruhi oleh lingkungan
2.         Nativisme (Arthur Schopenhouer)
Bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, sehingga dapat berkembang secara baik mapun tidak sangat ditentukan oleh anak itu sendiri
3.    Naturalisme (Jean Jaques Rousseau)
Semua adalah baik dari tangan pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat
Pendidikan akan berpengaruh positif pada anak, apa bila anak dibiarkan berkembang sesuai dengan pembawaan dalam lingkungan yang alami (tidak dibuat). Lingkungan pendidikan yang diusahakan secara sadar dibuat untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menjadi anak kearah tertentu akan berpengaruh jelek pada perkembangan anak
Pendidikan yang sengaja diciptakan, akan berdampak buruk kepada perkembangan anak. Pendidikan akan berdampat baik kepada anak, apabila berlangsung secara alami. Tugas pendidikan adalah membiarkan anak berkembang  menurut alamnya dan menjauhkan pengaruh yang jelek, karena kodrat pembawaan anak adalah baik
Naturalisme mengartikan pendidikan adalah hidup dan kehidupan itu sendiri
4. Aliran Konvergensi (William Stern)
Aliran konvergensi memadukan teori empirisme dan nativisme. Empirisme hanya mengakui bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan anak, sedang Nativisme hanya mengakui bahwa pembawaan yang berpengaruh pada perkembangan anak. Konvergensi berpendapat bahwa faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting
Pembawaan anak tidak akan berkembang dengan baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang sesuai dengan pembawaannya. Demikian sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan mengahasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak memiliki pembawaan (bakat) seperti yang diharapkan
B.       Aliran Pendidikan Abad 20
Pendidikan abad 20 lebih memperhatikan berbagai aspek internal individu manusia, baik secara perorangan, kelompok atau klasikal/masal untuk menyiapakan manusia sebagai individu, anggota masyarakat dan warga negara. Aliran-aliran pendidikan abad 20 yang perlu dikaji: Pengajaran Alam Sekitar, Pengajaran Pusat Perhatian, Sekolah Kerja, dan Sekolah Proyek
1.        Pengajaran Alam Sekitar
Pengajaran alam sekitar dikenal dengan Heimatkunde (ekologi/kehidupan nyata)
Konsep pembelajarannya, bahwa pangkal tolak dari pendidikan dan pembelajaran harus didasarkan pada lingkungannya agar pendidikan berhasil dengan baik dengan cara: mengamati, menyelidik, meniru, mencontoh dan, membicarakan
Prinsip-prinsip  pengajaran alam sekitar:
a.         Memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar, sehingga dalam pembelajaran dan pendidikan peserta didik secara aktif menggunakan indera dan memperagakan secara langsung untuk mendapatkan dan memahami pengetahuan
b.        Memberikan kesempatan pada peserta didik berinteraksi langsung sesuai dengan karakteristiknya, sehingga mereka tidak hanya duduk, dengar, catat dan menghafal
c.         Memungkinkan memberikan pembelajaran totalitas dengan karakteristik:

Karakeristik pembelajaran totalitas:
a.         Tidak mengenal pembagian mata pelajaran dalam daftar mata pelajaran, tetapi guru harus memahami tujuan pembelajaran dan menciptakan suasana dan kegiatan untuk mencapai tujuan
b.        Topik pembelajaran dipilih yang menarik dan bersumber dari lingkungan kehidupan sekitarnya
c.         Memungkinkan bahan pembelajaran berhubungan erat satu dengan yang lain secara teratur
d.        Pembelajaran tidak verbalistis, memperkokoh apersepsi intelektual peserta didik, sehingga pengetahuan yang menjadi bahan apersepsi harus tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan anak
Apersepsi intelektual adalah menyatukan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik
e.         Karena alam sekitar memiliki ikatan emosional dengan anak, maka pengajaran alam sekitar akan memberikan apersepsi emosionalnya
f.         Pengajaran alam sekitar memungkinkan terjadinya proses pendidikan yang lebih fungsional

2.        Pengajaran Pusat Perhatikan
Ovide Decroly (Tim Dosen FIP UM , 2005:88) bahwa sekolah untuk hidup, oleh hidup
Melalui sekolah laboratoriumnya menemukan: Teori/metode global (globalisation) dan Metode-metode pusat perhatian/minta (centre d’interest)
a.         Metode Global
Global diartikan sebagai jumlah unsur secara keseluruhan. Di Indonesia penerapannya dalam metode SAS. Dasar pemikiran metode global, bahwa anak-anak mengamati dan mengingat secara keseluruhan terlebih dulu dari pada bagia-bagian. Bruner, gambaran proses pikiran anak dalam mengkonstruksi pengetahuan berbentuk spiral (sederhana/pre-speech) hingga terlibat dalam penggunaan bahasa yang kompleks. Metode global lebih bersifat videovisual, kata dan huruf diajarkan dalam bentuk simbul atau gambar
b.        Metode-metode pusat perhatian/minta (centre d’interest)
Bahwa anak memiliki minat yang spontan berdasarkan kebutuhan, sehingga pembelajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan. Pusat perhatian merupakan keseluruhan bahan pelajaran yang luas yang diambil dari kehidupan. Segala matapelajaran tidak disajikan secara terpisah, tetapi menjadi keseluruhan yang bulat
Dasar pengajaran pusat minat:
-       Semua bahan pembelajaran harus merupakan keseluruhan dan mengambil salah satu kebutuhan sebagai pusat perhatian
-       Pembelajaran harus didasarkan dari kebutuhan yang timbul dari perhatian anak yang merupakan dasar dan arah pembelajaran
-       Penolahan bahan pembelajaran harus memungkinkan keaktifan belajar peserta didik
-       Bahan pembelajaran diambil dari lingkungan hidup, yang memfasilitasi anak belajar dengan: mengamati, memahami, menyelidiki, menghayati
-       Mendidikan anak menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab
-       Adanya kerja sama antara sekolah dan  keluarga dalam kepentingan pendidikan
Penggolongan pusat perhatian didasarkan pada kebutuhan:
-       Fisiologis, untuk mempertahankan hidup
-       Rasa aman
-       Cinta dan pengakuan, terpenuhinya kasih sayang dan cinta dalam kelompok dan mendapatkan perlindungan oleh orang lain.
-       Harga diri, perolehan pengakuan
-       Mengetahui dan memahami terkait dengan penguasaan IPTEK
3. Sekolah Kerja
G. Kerschensteiner, sekolah kerja bertolak dari pandangan “bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu saja, tetapi demi kepentingan masyarakat “.  Kewajiban utama sekolah mempersiapkan anak untuk dapat bekerja
Sekolah berkewajiban menyiapkan warga negara yang baik, yakni:
a.         Tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan jabatan
b.        Tiap orang wajib menumbangkan tenaganya untuk kepentingan negaranya
c.         Ikut membantu mempertinggi dan menyempurna-kan kesusilaan dan keselamatan negara
Tujuan sekolah (G. Kerschensteiner)
a.         Menambah pengetahuan anak baik yang didapat dari buku atau orang lain maupun dari pengalaman diri sendiri
b.        Agar anak memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu
c.         Agar anak mameliki pekerjaan sebagai persipan jabatan dalam mengabdi negara
Berdasar berbagai macam pekerjaan, sekolah digolongkan: sekolah perindustrian, sekolah perdagangan, sekolah rumah tangga
Tokoh-tokoh sekolah kerja
a.    J.A. Comenius bahwa Suatu sekolah yang penyelenggaraan menekankan pada pendidikan mengembangkan pkiran, ingatan, bahasa dan tangan (keterampilan, kerja tangan)
b.   Fancke membelajarkan anak perempuan dalam bidang: menjrum, memintal, merajut dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sedang anak laki-laki: membelajarkan membuat barang dari kardus, kayu, gelas dan gading
c.   Rousseau, membelajarkan anak untuk mengembangkan pertumbuhan jasmani dan rohani dengan belajar sesuatu vak
d.   Pestalozzi, mendidik anak dengan berbagai pertukangan dan pertanian untuk membiayai diri sendiri
e.   Frobel, bahwa dorongan (insting) untuk berbuat (bermain) merupakan faktor utama dalam pendidikan
Sekolah yang didirikan pengikut G. Kerschensteiner: Sekolah teknik kerajinan, Sekolah dagang, Sekolah pertanian bagi anak laki-laki, Sekolah rumah tangga kota dan, Sekolah rumah tangga desa.
Sekolah rumah tangga kota dan desa untuk anak gadis. Sedang sekolah yang lebih bersifat intelektual
4. Sekolah Proyek
John Dewey (falsafah pragmatisme penganut behavioristik) bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (become is microcosm of society), karena itu pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya penyiapan kehidupan masa depan (education is processs of living and not a preparaation for future living)
Sekolah proyek adalah suatu bentuk pembelajaran atau cara penyajian bahan pengajaran agar murid mengolahnya sendiri dengan membuat rencana/suatu masalah yang akan dilaksanakan: dipelajari, dibuat, dicatat, diamati, diselidiki, ditinjau, dikumpulkan, didramatisir, dan dipamerkan
Pengajaran proyek dilaksanakan melalui beberapa tahap:
a.  Persipan. Menentukan masalah/tema oleh guru bersama peserta didik. Masalah/tema yang dipilih disesuaikan dengan minat peserta didik
b.   Pendahuluan Mengadakan pembicaraan 1 minggu sebelum pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui apa yang harus dimengerti, apa yang menarik dan membangkitkan minat peserta didik, dan bagaimana pengalaman pembelajarannya.
c.   Perjalanan sekolah. Dilaksanakan dalam minggu persiapan atau waktu yang lain, dengan memperhatikan:
-    Perjalanan sekolah sebagai kegiatan pengamatan di lingkungan sekitar terkait dengan tema yang ditetapkan
-    Peserta didik diberi tugas mencatat berbagai hal yang ditemukan
-   Aktivitas peserta didik harus terkait dengan kegiatan pembelajaran

Pengajaran proyek di Indonesia dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu/unit. Pengajaran proyek/terpadu akan dapat menumbuh-kan/melatih kemampuan peserta didik menyelesaikan masalah secara komprehensif

5.        Pembelajaran kecerdasan spiritual (SQ)
IQ kecerdasan intelektual
EQ kecerdasan emosi
SQ kecerdasan spiritual
Pengaruh gaya hidup materialisme dan hedonisme dalam era globalisasi ekonomi, menjadi-kan manusia tereduksi dan menjauhkan diri dari kontrol nilai-nilai agama. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan rohaniah, kecerdasan hati, dan kecerdasan jiwa yang dapat membantu menyembuhkan dan membangun diri secara utuh sehingga mampu kembali sebagai makluk spiritual sebagai fitrahnya
Dua esensi manusia yang dikembangkan dalam pembelajaran kecerdasan spiritual adalah:
a.         Jiwa, yang tenang dan damai akan mampu menjalin kontak spiritual dengan Tuhannya
b.        Hati, bahwa hati yang teraltih akan mampu mencapai tingkat jiwa yang damai

Seseorang yang memilki SQ tinggi memiliki kecenderungan menjadi orang yang penuh tanggung jaawab dalam membawakan visi dan nilai-nilai yang lebih tinggi kepada orang lain sehingga mampu membiri inspirasi, membantu, dan memberi motivasi untuk suksesnya orang lain
Karakteristik orang memiliki SQ tinggi:
a.         Mampu bersikap fleksibel/beradaptasi
b.        Tingkat kesadaran diri tinggi
c.         Mampu menghadapi dan memanfaat penderitaan sebagai pengalaman
d.        Mampu menghadai dan melampui rasa sakit
e.         Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
f.         Enggan untuk menyebabkan kerugian pada diri sendiri maupun orang lain dan tidak diperlukan
g.        Memiliki kecenderungan melihat keterkaitan berbagai hal (berpandangan holistik)
h.        Selalu tumbuh bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika?” dalam mencari jawaban yang mendasar

KONSEP PENDIDIKAN TOKOH INDONESIA
1.        Raden Ajeng Kartini
Pendidikan diselenggarakan untuk membekali wanita memperoleh persamaan hak-hak wanita agar sejajar dengan kaum pria (emansipasi wanita)
Perjuangan emansipasi wanita dilaksanakan dengan mendirikan sekolah khusus wanita:
a.         Sekolah gadis di Jepara (1903)
b.        Sekolah gadis di Rembang


2. Raden Dewi Sartika
Pendidikan dilaksanakan untuk mengangkat derajat kaum wanita. Pendidikan dilatar belakangi oleh tidak diberikannya kesempatan kaum wanita mengikuti kemajuan. Perjuangan mengangkat derajat wanita dilaksanakan dengan mendirikan sebuah sekolah dengan nama “sekolah istri” pada tahun 1904. tahun 1907 sudah mulai mengeluarkan lulusan dengan mendapatkan ijazah. Pada tahun 1914, nama sekolah diganti menjadi “Sekolah Kautaman Istri”

3. Rohana Kudus
Pendidikan diselenggarakan untuk memperbaiki nasib kaum wanita, sebagai akibat dari adat-adat kuno dan kolot masyarakatnya
Penyelenggaraan pendidikan untuk memperbaiki nasib wanita diselenggarakan dengan cara:
a.         Mengajar membaca menulis huruf latin dan arab kepada teman-teman gadisnya (1896)
b.        Tahun 1905 mendiri “Sekolah Gadis” di Gedang, kemudian dirubah menjadi  “Skeolah Kerajinan Amai Satia” tahun 1911
c.         Tahun 1912 mendirikan dan sekaligus menjadi redaksi surat kabar wanita, dengan nama :Soenting Melajoe” di Padang

4. Ki Hajar Dewantara
Mendirikan perguruan taman siswa pada tahun 1922, yang teridiri dari Taman Anak dan Kursus Guru. Kemudian berkembang:
a.         Taman Indria (setingkat TK)
b.        Taman Anak (setingkat kelas I-III sekolah rendah atau Sekolah Dasar)
c.         Taman Muda (setingkat kelas IV-VI Sekolah Rendah)
d.        Taman Dewasa (setara SMP)
e.         Taman Madia (setara SMA)
f.         Taman Guru, mendidik calon Guru TK dan Taman Muda
g.        Taman Guru B-2
h.        Taman Guru B-3 , mendidik calon guru Taman Dewasa
       - bagian A jurusan Ilmu Pasti dan Alam
       - bagian B jurusan Budaya
i.     Taman Guru Indria (mendidik wanita yang ingin menjadi guru Taman Indria)

Pendidikan diselenggarakan dengan sistem “ Among: Tut Wuri Handayani” yang mengemukan 2 dasar:
a.       Kemerdekaan sebagai sayarat untuk menghidupan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin sehingga dapat hidup merdeka (mandiri)
b.      Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya

Azas penyelenggaraan Taman Siswa “ Panca Dharma Taman Siswa”, azas: kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan

5. Moch Syafe’i (pendidikan INS)
INS (Indonesische Nedrlanse School) berubah menjadi Indonesia Nasional School) dan berubah lagi menjadi Institut Nasional Syafe’i. Dasar pengembangan pendidikan adalah kemasyarakatan, keaktifan, kepraktisan, serta berpikir logis dan rasional yang mengutamakan dunia kerja. Pengembangan pendidikan mencakup: heard/pikiran, heart/perasaan dan, hand/tangan
Tujuan penyelenggaraan pendidikan INS:
a.         Mendidik anak agar mampu berpikir secara rasional
b.        Mendidik anak agar mampu bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh
c.         Mendidik anak agar menjadi manusia yang berwatak baik
d.        Menanamkan rasa persatuan

6. K,H. Ahmad Dahlan
Beberapa hal yang melatar belakangi pendirian pendidikan Muhammadiyah:
a.         Umat Isalam tidak memegang tuntunan Al-qur’an dan Hadist Nabi sehingga melakukan perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat semakin meraja rela serta mencemarkan kemurnian ajaran
b.        Keadaan umat Islam sangat menyedihkan akibat penjajahan
c.         Kegagalan institusi pendidikan Islam untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman merupakan akibat dari mengisolasi diri
d.        Persatuan dan kesatuan umat Islam menurun  sebagai akibat lemahnya organisasi yang ada
e.         Munculnya tantangan dari kegiatan misi Zending yang dianggap mengancam masa depan umat Islam

Tujuan penyelenggaraan pendidikan terwujudnya manusia muslim, beraklaq, cakap, percaya kepada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara
7. K.H. Hasyim Asya’ri
Mendirikan organisasi NU yang begerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan
Dalam mewujudkan cita-cita organisasi didirikan:
a.         Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang 
b.        Membentuk lembaga Ma’arif yang bertugas membuat perundang-undangan dan program pendidikan dilembaga pendidikan atau sekolah yang berada di bawah naungan NU

Tujuan penyelenggaraan pendidikan:
a.         Menumbuhkan jiwa dan gagasan yang dapat membentuk pandangan hidup bagi anak didik sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal jama’ah
b.        Menanamkan sikap terbuka, watak mandiri, kemampuan bekerjasama dengan pihak lain untuk lebih baik, keterampilan menggunakan IPTEK
c.         Menciptakan sikap hidup yang berorientasi kepada kehidupan duniawi dan ukhrawi sebagai sebuah kesatuan
d.        Menanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ajaran yang dinamis


             










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar mu...!! ^^