ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN
A.
Aliran Klasik
Perbedaan
pertumbuhan dan perkembangan
1.
Pertumbuhan terjadi
pada manusia bersifat material dan kuantitatif, baik pada bagian fisik tertentu
maupun secara keseluruhan. Pertumbuhan berbentuk perubahan:
pembesaran, pemanjangan, pembanyakan dan bentuk-bentuk
lainnya
2.
Perkembangan merupakan
perubahan yang meliputi berfungsinya aspek fisik dan jiwa secara kualitatif. Contoh
:
a. Petumbuhan
dan kuatnya tulang, kaki dapat
menjalankan fungsi yang semakin kompleks
b. Daya
pikir, kepekaan, rasa sosial, krearivitas
Faktor-faktor
perkembangan manusia berpengaruh pada munculnya aliran klasik pendidikan:
1.
Empirisme (John Locke)
Segala
pengetahuan, keterampilan, dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan
oleh empiri (pengalaman nyata) melalui alat inderanya baik secara langsung
berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan diri dari
apa yang didapatkan secara langsung. Teori tabularasa, bahwa anak baru lahir
diumpakamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa-apa. Perkembangan
manusia sangat ditentukan/ diperngaruhi oleh lingkungan
2.
Nativisme (Arthur Schopenhouer)
Bahwa
anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan ditentukan
oleh faktor pembawaannya, sehingga dapat berkembang secara baik mapun tidak
sangat ditentukan oleh anak itu sendiri
3.
Naturalisme (Jean Jaques Rousseau)
Semua
adalah baik dari tangan pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia. Pembawaan
akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang
dibuat-buat
Pendidikan
akan berpengaruh positif pada anak, apa bila anak dibiarkan berkembang sesuai
dengan pembawaan dalam lingkungan yang alami (tidak dibuat). Lingkungan
pendidikan yang diusahakan secara sadar dibuat untuk mempengaruhi perkembangan
anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menjadi anak kearah
tertentu akan berpengaruh jelek pada perkembangan anak
Pendidikan
yang sengaja diciptakan, akan berdampak buruk kepada perkembangan anak.
Pendidikan akan berdampat baik kepada anak, apabila berlangsung secara alami. Tugas
pendidikan adalah membiarkan anak berkembang
menurut alamnya dan menjauhkan pengaruh yang jelek, karena kodrat
pembawaan anak adalah baik
Naturalisme
mengartikan pendidikan adalah hidup dan kehidupan itu sendiri
4. Aliran Konvergensi (William Stern)
Aliran
konvergensi memadukan teori empirisme dan nativisme. Empirisme hanya
mengakui bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan anak, sedang Nativisme
hanya mengakui bahwa pembawaan yang berpengaruh pada perkembangan anak. Konvergensi
berpendapat bahwa faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama mempunyai peranan
yang sangat penting
Pembawaan
anak tidak akan berkembang dengan baik apabila tidak didukung oleh lingkungan
yang sesuai dengan pembawaannya. Demikian sebaliknya, lingkungan yang baik
tidak akan mengahasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak
tidak memiliki pembawaan (bakat) seperti yang diharapkan
B.
Aliran Pendidikan Abad
20
Pendidikan
abad 20 lebih memperhatikan berbagai aspek internal individu manusia, baik
secara perorangan, kelompok atau klasikal/masal untuk menyiapakan manusia
sebagai individu, anggota masyarakat dan warga negara. Aliran-aliran pendidikan
abad 20 yang perlu dikaji: Pengajaran Alam Sekitar, Pengajaran Pusat Perhatian,
Sekolah Kerja, dan Sekolah Proyek
1.
Pengajaran Alam Sekitar
Pengajaran
alam sekitar dikenal dengan Heimatkunde (ekologi/kehidupan nyata)
Konsep
pembelajarannya, bahwa pangkal tolak dari pendidikan dan pembelajaran harus
didasarkan pada lingkungannya agar pendidikan berhasil dengan baik dengan cara:
mengamati, menyelidik, meniru, mencontoh dan, membicarakan
Prinsip-prinsip pengajaran alam sekitar:
a.
Memanfaatkan alam
sekitar sebagai sumber belajar, sehingga dalam pembelajaran dan pendidikan
peserta didik secara aktif menggunakan indera dan memperagakan secara langsung
untuk mendapatkan dan memahami pengetahuan
b.
Memberikan kesempatan
pada peserta didik berinteraksi langsung sesuai dengan karakteristiknya,
sehingga mereka tidak hanya duduk, dengar, catat dan menghafal
c.
Memungkinkan memberikan
pembelajaran totalitas dengan karakteristik:
Karakeristik
pembelajaran totalitas:
a.
Tidak mengenal
pembagian mata pelajaran dalam daftar mata pelajaran, tetapi guru harus
memahami tujuan pembelajaran dan menciptakan suasana dan kegiatan untuk
mencapai tujuan
b.
Topik pembelajaran
dipilih yang menarik dan bersumber dari lingkungan kehidupan sekitarnya
c.
Memungkinkan bahan
pembelajaran berhubungan erat satu dengan yang lain secara teratur
d.
Pembelajaran tidak
verbalistis, memperkokoh apersepsi intelektual peserta didik, sehingga
pengetahuan yang menjadi bahan apersepsi harus tumbuh dan berkembang sesuai
dengan tingkat perkembangan anak
Apersepsi intelektual adalah
menyatukan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta
didik
e.
Karena alam sekitar
memiliki ikatan emosional dengan anak, maka pengajaran alam sekitar akan
memberikan apersepsi emosionalnya
f.
Pengajaran alam sekitar
memungkinkan terjadinya proses pendidikan yang lebih fungsional
2.
Pengajaran Pusat
Perhatikan
Ovide Decroly (Tim Dosen FIP UM ,
2005:88) bahwa sekolah untuk hidup, oleh hidup
Melalui
sekolah laboratoriumnya menemukan: Teori/metode global (globalisation) dan Metode-metode
pusat perhatian/minta (centre d’interest)
a.
Metode Global
Global
diartikan sebagai jumlah unsur secara keseluruhan. Di Indonesia penerapannya
dalam metode SAS. Dasar pemikiran metode global, bahwa anak-anak mengamati dan
mengingat secara keseluruhan terlebih dulu dari pada bagia-bagian. Bruner,
gambaran proses pikiran anak dalam mengkonstruksi pengetahuan berbentuk spiral
(sederhana/pre-speech) hingga terlibat dalam penggunaan bahasa yang kompleks. Metode
global lebih bersifat videovisual, kata dan huruf diajarkan dalam bentuk simbul
atau gambar
b.
Metode-metode pusat
perhatian/minta (centre d’interest)
Bahwa
anak memiliki minat yang spontan berdasarkan kebutuhan, sehingga pembelajaran
harus disesuaikan dengan minat-minat spontan. Pusat perhatian merupakan
keseluruhan bahan pelajaran yang luas yang diambil dari kehidupan. Segala
matapelajaran tidak disajikan secara terpisah, tetapi menjadi keseluruhan yang
bulat
Dasar
pengajaran pusat minat:
- Semua
bahan pembelajaran harus merupakan keseluruhan dan mengambil salah satu
kebutuhan sebagai pusat perhatian
- Pembelajaran
harus didasarkan dari kebutuhan yang timbul dari perhatian anak yang merupakan
dasar dan arah pembelajaran
- Penolahan
bahan pembelajaran harus memungkinkan keaktifan belajar peserta didik
- Bahan
pembelajaran diambil dari lingkungan hidup, yang memfasilitasi anak belajar
dengan: mengamati, memahami, menyelidiki, menghayati
- Mendidikan
anak menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab
- Adanya
kerja sama antara sekolah dan keluarga
dalam kepentingan pendidikan
Penggolongan
pusat perhatian didasarkan pada kebutuhan:
- Fisiologis,
untuk mempertahankan hidup
- Rasa
aman
- Cinta
dan pengakuan, terpenuhinya kasih sayang dan cinta dalam kelompok dan
mendapatkan perlindungan oleh orang lain.
- Harga
diri, perolehan pengakuan
- Mengetahui
dan memahami terkait dengan penguasaan IPTEK
3.
Sekolah Kerja
G.
Kerschensteiner, sekolah kerja bertolak dari
pandangan “bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu saja, tetapi
demi kepentingan masyarakat “. Kewajiban
utama sekolah mempersiapkan anak untuk dapat bekerja
Sekolah
berkewajiban menyiapkan warga negara yang baik, yakni:
a.
Tiap orang adalah
pekerja dalam salah satu lapangan jabatan
b.
Tiap orang wajib
menumbangkan tenaganya untuk kepentingan negaranya
c.
Ikut membantu
mempertinggi dan menyempurna-kan kesusilaan dan keselamatan negara
Tujuan
sekolah (G. Kerschensteiner)
a.
Menambah pengetahuan
anak baik yang didapat dari buku atau orang lain maupun dari pengalaman diri
sendiri
b.
Agar anak memiliki
kemampuan dan kemahiran tertentu
c.
Agar anak mameliki
pekerjaan sebagai persipan jabatan dalam mengabdi negara
Berdasar
berbagai macam pekerjaan, sekolah digolongkan: sekolah perindustrian,
sekolah perdagangan, sekolah rumah tangga
Tokoh-tokoh
sekolah kerja
a. J.A. Comenius bahwa Suatu sekolah
yang penyelenggaraan menekankan pada pendidikan mengembangkan pkiran, ingatan,
bahasa dan tangan (keterampilan, kerja tangan)
b.
Fancke membelajarkan anak perempuan dalam bidang: menjrum,
memintal, merajut dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sedang anak laki-laki:
membelajarkan membuat barang dari kardus, kayu, gelas dan gading
c.
Rousseau, membelajarkan anak untuk mengembangkan pertumbuhan
jasmani dan rohani dengan belajar sesuatu vak
d.
Pestalozzi, mendidik anak
dengan berbagai pertukangan dan pertanian untuk membiayai diri sendiri
e.
Frobel, bahwa dorongan (insting) untuk berbuat (bermain)
merupakan faktor utama dalam pendidikan
Sekolah
yang didirikan pengikut G. Kerschensteiner: Sekolah teknik kerajinan, Sekolah
dagang, Sekolah pertanian bagi anak laki-laki, Sekolah rumah tangga kota dan, Sekolah
rumah tangga desa.
Sekolah
rumah tangga kota dan desa untuk anak gadis. Sedang sekolah yang lebih bersifat
intelektual
4.
Sekolah Proyek
John
Dewey (falsafah pragmatisme penganut behavioristik) bahwa
sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (become is microcosm of
society), karena itu pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu
sendiri dan bukannya penyiapan kehidupan masa depan (education is processs of
living and not a preparaation for future living)
Sekolah
proyek adalah suatu bentuk pembelajaran atau cara penyajian bahan pengajaran
agar murid mengolahnya sendiri dengan membuat rencana/suatu masalah yang akan
dilaksanakan: dipelajari, dibuat, dicatat, diamati, diselidiki, ditinjau,
dikumpulkan, didramatisir, dan dipamerkan
Pengajaran
proyek dilaksanakan melalui beberapa tahap:
a.
Persipan. Menentukan masalah/tema oleh guru bersama peserta didik.
Masalah/tema yang dipilih disesuaikan dengan minat peserta didik
b.
Pendahuluan Mengadakan pembicaraan 1 minggu sebelum pelaksanaan
pembelajaran untuk mengetahui apa yang harus dimengerti, apa yang menarik dan
membangkitkan minat peserta didik, dan bagaimana pengalaman pembelajarannya.
c.
Perjalanan sekolah. Dilaksanakan dalam minggu persiapan atau waktu yang
lain, dengan memperhatikan:
-
Perjalanan sekolah sebagai
kegiatan pengamatan di lingkungan sekitar terkait dengan tema yang ditetapkan
- Peserta didik diberi tugas mencatat berbagai
hal yang ditemukan
- Aktivitas peserta didik harus terkait dengan
kegiatan pembelajaran
Pengajaran
proyek di Indonesia dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu/unit. Pengajaran
proyek/terpadu akan dapat menumbuh-kan/melatih kemampuan peserta didik
menyelesaikan masalah secara komprehensif
5.
Pembelajaran kecerdasan
spiritual (SQ)
IQ
kecerdasan intelektual
EQ
kecerdasan emosi
SQ
kecerdasan spiritual
Pengaruh
gaya hidup materialisme dan hedonisme dalam era globalisasi ekonomi, menjadi-kan
manusia tereduksi dan menjauhkan diri dari kontrol nilai-nilai agama. Kecerdasan
spiritual adalah kecerdasan rohaniah, kecerdasan hati, dan kecerdasan jiwa yang
dapat membantu menyembuhkan dan membangun diri secara utuh sehingga mampu
kembali sebagai makluk spiritual sebagai fitrahnya
Dua
esensi manusia yang dikembangkan dalam pembelajaran kecerdasan spiritual
adalah:
a.
Jiwa, yang tenang dan
damai akan mampu menjalin kontak spiritual dengan Tuhannya
b.
Hati, bahwa hati yang
teraltih akan mampu mencapai tingkat jiwa yang damai
Seseorang
yang memilki SQ tinggi memiliki kecenderungan menjadi orang yang penuh tanggung
jaawab dalam membawakan visi dan nilai-nilai yang lebih tinggi kepada orang
lain sehingga mampu membiri inspirasi, membantu, dan memberi motivasi untuk
suksesnya orang lain
Karakteristik
orang memiliki SQ tinggi:
a.
Mampu bersikap
fleksibel/beradaptasi
b.
Tingkat kesadaran diri
tinggi
c.
Mampu menghadapi dan
memanfaat penderitaan sebagai pengalaman
d.
Mampu menghadai dan
melampui rasa sakit
e.
Kualitas hidup yang
diilhami oleh visi dan nilai-nilai
f.
Enggan untuk
menyebabkan kerugian pada diri sendiri maupun orang lain dan tidak diperlukan
g.
Memiliki kecenderungan
melihat keterkaitan berbagai hal (berpandangan holistik)
h.
Selalu tumbuh bertanya
“mengapa?” atau “bagaimana jika?” dalam mencari jawaban yang mendasar
KONSEP
PENDIDIKAN TOKOH INDONESIA
1.
Raden Ajeng Kartini
Pendidikan
diselenggarakan untuk membekali wanita memperoleh persamaan hak-hak wanita agar
sejajar dengan kaum pria (emansipasi wanita)
Perjuangan
emansipasi wanita dilaksanakan dengan mendirikan sekolah khusus wanita:
a.
Sekolah gadis di Jepara
(1903)
b.
Sekolah gadis di
Rembang
2.
Raden Dewi Sartika
Pendidikan
dilaksanakan untuk mengangkat derajat kaum wanita. Pendidikan dilatar belakangi
oleh tidak diberikannya kesempatan kaum wanita mengikuti kemajuan. Perjuangan
mengangkat derajat wanita dilaksanakan dengan mendirikan sebuah sekolah dengan
nama “sekolah istri” pada tahun 1904. tahun 1907 sudah mulai mengeluarkan
lulusan dengan mendapatkan ijazah. Pada tahun 1914, nama sekolah diganti
menjadi “Sekolah Kautaman Istri”
3. Rohana Kudus
Pendidikan
diselenggarakan untuk memperbaiki nasib kaum wanita, sebagai akibat dari
adat-adat kuno dan kolot masyarakatnya
Penyelenggaraan pendidikan untuk
memperbaiki nasib wanita diselenggarakan dengan cara:
a.
Mengajar membaca
menulis huruf latin dan arab kepada teman-teman gadisnya (1896)
b.
Tahun 1905 mendiri
“Sekolah Gadis” di Gedang, kemudian dirubah menjadi “Skeolah Kerajinan Amai Satia” tahun 1911
c.
Tahun 1912 mendirikan
dan sekaligus menjadi redaksi surat kabar wanita, dengan nama :Soenting
Melajoe” di Padang
4. Ki Hajar Dewantara
Mendirikan
perguruan taman siswa pada tahun 1922, yang teridiri dari Taman Anak dan Kursus
Guru. Kemudian berkembang:
a.
Taman Indria (setingkat
TK)
b.
Taman Anak (setingkat
kelas I-III sekolah rendah atau Sekolah Dasar)
c.
Taman Muda (setingkat
kelas IV-VI Sekolah Rendah)
d.
Taman Dewasa (setara
SMP)
e.
Taman Madia (setara
SMA)
f.
Taman Guru, mendidik
calon Guru TK dan Taman Muda
g.
Taman Guru B-2
h.
Taman Guru B-3 ,
mendidik calon guru Taman Dewasa
-
bagian A jurusan Ilmu Pasti dan Alam
-
bagian B jurusan Budaya
i. Taman Guru Indria (mendidik wanita yang
ingin menjadi guru Taman Indria)
Pendidikan
diselenggarakan dengan sistem “ Among: Tut Wuri Handayani” yang
mengemukan 2 dasar:
a. Kemerdekaan
sebagai sayarat untuk menghidupan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin
sehingga dapat hidup merdeka (mandiri)
b. Kodrat
alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kemajuan dengan
secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya
Azas
penyelenggaraan Taman Siswa “ Panca Dharma Taman Siswa”, azas: kemerdekaan,
kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan
5. Moch Syafe’i (pendidikan INS)
INS
(Indonesische Nedrlanse School) berubah menjadi Indonesia Nasional School) dan
berubah lagi menjadi Institut Nasional Syafe’i. Dasar pengembangan pendidikan
adalah kemasyarakatan, keaktifan, kepraktisan, serta berpikir logis dan rasional
yang mengutamakan dunia kerja. Pengembangan pendidikan mencakup: heard/pikiran,
heart/perasaan dan, hand/tangan
Tujuan
penyelenggaraan pendidikan INS:
a.
Mendidik anak agar
mampu berpikir secara rasional
b.
Mendidik anak agar
mampu bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh
c.
Mendidik anak agar
menjadi manusia yang berwatak baik
d.
Menanamkan rasa
persatuan
6.
K,H. Ahmad Dahlan
Beberapa
hal yang melatar belakangi pendirian pendidikan Muhammadiyah:
a.
Umat Isalam tidak
memegang tuntunan Al-qur’an dan Hadist Nabi sehingga melakukan perbuatan
syirik, bid’ah dan khurafat semakin meraja rela serta mencemarkan kemurnian
ajaran
b.
Keadaan umat Islam
sangat menyedihkan akibat penjajahan
c.
Kegagalan institusi
pendidikan Islam untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman merupakan akibat dari
mengisolasi diri
d.
Persatuan dan kesatuan
umat Islam menurun sebagai akibat
lemahnya organisasi yang ada
e.
Munculnya tantangan
dari kegiatan misi Zending yang dianggap mengancam masa depan umat Islam
Tujuan
penyelenggaraan pendidikan terwujudnya manusia muslim, beraklaq, cakap, percaya
kepada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara
7. K.H. Hasyim Asya’ri
Mendirikan organisasi NU yang
begerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan
Dalam mewujudkan cita-cita
organisasi didirikan:
a.
Pondok Pesantren Tebu
Ireng di Jombang
b.
Membentuk lembaga
Ma’arif yang bertugas membuat perundang-undangan dan program pendidikan
dilembaga pendidikan atau sekolah yang berada di bawah naungan NU
Tujuan penyelenggaraan pendidikan:
a.
Menumbuhkan jiwa dan
gagasan yang dapat membentuk pandangan hidup bagi anak didik sesuai dengan
ajaran Ahlusunnah wal jama’ah
b.
Menanamkan sikap
terbuka, watak mandiri, kemampuan bekerjasama dengan pihak lain untuk lebih
baik, keterampilan menggunakan IPTEK
c.
Menciptakan sikap hidup
yang berorientasi kepada kehidupan duniawi dan ukhrawi sebagai sebuah kesatuan
d.
Menanamkan penghayatan
terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ajaran yang dinamis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Komentar mu...!! ^^